Islam Indahnya Berlipat
11 April 2009
Demen dengan tindakan brutal dan kekerasan, ugal-ugalan, hura-hura bahkan maksiat. Pergaulan bebas, dugem, begadang, dan lain-lain identik dengan kehidupannya.
Yach… memang begitulah seharusnya seorang pemuda, kalau tidak demikian namanya bukan anak muda!
Meninggalkan kewajiban yang seharusnya dilakukan setiap muslim yang telah baligh, seperti shalat dan puasa ramadhan, sudah menjadi kebiasaan. Alih-alih, “Ah itu biasa, kita kan masih muda entar saja kalau sudah tua kita akan rajin puasa dan pergi ke masjid.”
Weit… tunggu dulu! Siapa yang tahu sih berapa lama lagi umur kita? Emang makhluk yang namanya kematian itu hanya mampir yang sudah lanjut usia? Lagian, apa kita bisa menjamin sudah tua pasti mau melaksanakannya. Biasanya nih, mereka yang biasa meninggalkan kewajiban akan sulit untuk melakukannya kecuali mereka yang dirahmati Allah.
Dari Pemuda Semua Bermula
Berbagai tindakan yang menyimpang para pemuda ternyata memiliki muara yang boleh dikatakan nyaris sama, yaitu kekeliruan dalam memahami dan menyikapi masa muda. Hampir sebagian besar pemuda memiliki persangkaan dan persepsi bahwa masa muda adalah masa berkelana, hura-hura, bersenang-senang, main-main, berfoya-foya, dan menghabiskan waktu untuk bersuka ria semaunya.
Untuk menimbang dan memandang dari sudut syar’i dikatakan belum waktunya dan bukan trendnya. Padahal kenyataannya syari’at berbicara lain, yaitu masa muda adalah masa dimulainya seseorang untuk memikul suatu beban tanggung jawab sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits riwayat At-Tirmidzi, bahwa ada 3 golongan yang pena diangkat (tidak ditulis dosannya) yang salah satunya adalah seorang anak hingga ia dewasa (menjadi pemuda).
Sejarah telah mencatat perjuangan cemerlang para pemuda yang membuahkan banyak perubahan. Tegaknya sebuah negara dan kedaulatan, tergulingnya kekuasaan, lahirnya peradaban baru hingga penemuan teknologi mutakhir nyaris mencatat peran pemuda yang terlibat di dalamnya.
Bagaimana pula dengan peradaban Islam? Sejarah ini telah menorehkan tinta emas peran serta pemuda yang menyokong perjuangan Rasulullah untuk menegakkan kalimat Allah ini hingga Islam benar-benar berjaya pada masa itu. Jadi, ungkapan masa pemuda masa berfoya-foya dan hura-hura sama sekali nggak ada benarnya, tetapi yang sebenarnya adalah masa muda merupakan masa dimulainya seseorang untuk menumpuk dan memperbanyak amal kebajikan, masa menghitung dan introspeksi diri, masa penuh semangat dan jiwa membara untuk membangun dan beramal sebanyak-banyaknya. Masa memunculkan segenap kemampuan dan tenaga untuk melakukan berbagai ketaatan dan kebaikan. Maka bagaimanakah seorang pemuda muslim yang ketika itu catatan keburukan sudah mulai ditulis malah justru memperbanyak keburukannya?
Ayolah Kembali!
Sadar nggak sadar kita semua adalah insan yang berlumur dosa dan khilaf, dan itu sudah pasti karena kita manusia biasa. Hanya saja orang yang mendapatkan taufiq dan mau menyadari kekeliruannya pasti akan bersegera untuk bertaubat dan minta ampun kepada Allah. Menyesali perbuatan dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengulanginya. Meski masih muda, jangan malu dan segan untuk bertaubat dan kembali kepada jalan Allah.
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan Surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal.
Subhanallah! Kita telah melakukan tindak keji, menganiaya diri sendiri, tapi mau bertaubat, menyesal, minta ampunan, dan meninggalkan maksiat itu. Maka Allah pun mengampuni dan memberikan kenikmatan abadi di Surga. Surga yang di bawahnya sungai-sungai, disediakan buah-buahan ranum tak kenal musim, keteduhan dan kedamaian, bidadari yang jelita, dan memandang wajah Allah Yang Agung lagi Mulia yang merupakan nikmat paling besar bagi penduduk Surga. Adakah nikmat lain yang lebih besar daripada ini? Apakah kesenangan yang dilakukan para pemuda mampu menandingi lezatnya nikmat Allah? Tidak, tidak ada kenikmatan di dunia yang dapat menandinginya meski setetes. Lalu tunggu apa lagi, segeralah bangun dari keterpurukan dan kembalilah pada nikmatnya Islam yang lezat berlipat!
Entry Filed under: islamuda. Tag: indah, islam muda.



Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed